Senin, 30 Mei 2016

hai, kau, yang aku sudah lupa namanya

Ada orang yang aku lelah mengertinya. Entah aku sudah lupa namanya. Jangan berpikir bahwa lelah mengerti berarti kita-sering-bertemu atau kita-sering-bercengkrama. Lelah mengerti. Karena ia tidak ada dan bukan masalah sebenarnya bagiku jika saja ia tidak punya sinyal kuat dan menghapus aksesku kemana-mana. Tidak mengerti karena datangnya yang tiba-tiba dan merusak janjiku untuk tidak memikirkan satu spesies homo sapien maskulin manapun. Dia dengan kurang ajarnya berkata, ‘bolehkah aku datang lagi?’ .

Hai, aku selalu mendapat cerita tentang mu. Kau yang tak pernah mau di kenalkan degan siapapun. Hey, siapa yang tidak meleleh mendengarmu mengatakan, ‘ia memang belum pasti, tapi aku akan berusaha untuk ini’. (oke, aku mengaku meleleh) aku berusaha menghilangkan mu akhir-akhir ini dengan cara yang bodoh. Membuatku seperti cemburu? ‘ aku tidak ingin mengenal siapa pun mana pun. Tidak terikat dan terkait dengan siapa pun mana pun. Jadi aku berlepas diri dari gosip dan pembicaraan.’  Aku hanya bisa diam. Mau bagaimana lagi? Sekalipun adikku tercinta yang sudah menjadi jauh lebih dewasa dariku bilang tidak, aku tidak bisa seenaknya melemparmu jauh-jauh. Hhh, ini bahkan bukan aku. Sejak kapan aku punya hati untuk tidak tega.
Atau ini memang bukan ekspresi tidak tega?

Hai, Kau
Yang aku sudah lupa namanya
Bisa minta tolong?
Matikan sinyalmu yang terlampau kuat itu
Itu mengganggu koneksiku yang memang tidak baik ini
Membuat akses kemana-mana terganggu dan tersasar hanya padamu


Hai, kau
Yang aku sudah lupa namanya

1 komentar: