Senin, 30 Mei 2016

May 24 2016



Hai, kita bertemu lagi. Dalam suara dan batin. Selalu begitu. Sungguh, aku tidak pernah faham.  Bagaimana saat aku merasa kau juga ada. Sudah  ke berapa kalinya? Apakah ini berarti melepasmu adalah salah? aku juga tidak yakin. Merasa kau disini hanya sekilas. Dan seperti yang sudah-sudah, aku mengabaikan. Mencoba mengabaikan. Tapi beberapa minggu kemudian, mereka bilang, kau ada. Beberapa minggu yang lalu. Pada hari yang sama saat aku merasa. Aku bercerita pada bintang yang pernah hilang. ‘’ tolong, jika aku merasa lagi aku akan memberi tahu kau. Dan lihatlah, apakah ia benar-benar ada.’’ Semoga kebetulan.
Lagi, aku bercerita. Pada hari itu. Aku merasa kau dekat. Disini. Wahai, tak sampai seminggu, Bintang yang pernah hilang mengatakan padaku,  ‘’iya, dia ada. Pada hari itu.’’ Aku tidak percaya. Tidak ingin percaya. Dan terjadi lagi. Satu dua kali. Dengan konfirmasi waktu semakin dekat. Bagaimanalah aku akan percaya? Itu dulu. Dan aku sudah lupa.

Tapi Kemarin, aku dikelas. Menghafal. Tiba-tiba saja terdengar suara. Aku berhenti. Tidak bisa melanjutkan hafalan. Hey, kau mengganggu seluruh pekerjaan. hingga aku melihat kembaran. Lagi-lagi aku akhirnya mengabaikan. Menganggap itu tadi suara kembaran. tapi aku tetap merasa kau disini. Entahlah. Aku hanya merasa.

Kau, bintang yang pernah hilang baru saja datang mengabarkan padaku. ‘’tepat di sore hari saat kau di kelas. Iya, dia di kantor. Berbicara.’’  Wahai, aku sungguh tidak ingin percaya.
Hai, aku takut salah. Bahkan melepasmu sekarang terasa salah. Kau baik. Apa yang membuatku mengatakan tidak? Hanya karena aku takut. Pengecut. Padahal aku sudah meminta tuhan.  Hingga Ia mengirim keyakinan padaku. Tapi aku kalah oleh takut.

Hai, mungkin kau sudah menghentikan epsode milikku dalam hidupmu. (seorang lelaki baik yang sudah menentukan jalan miliknya sendiri, jika ia menghentikannya sejenak, menunggu. Karena ada seseorang, maka pertimbangkanlah dengan baik. Seseorang itu boleh jadi sangat berharga— nasihat lama yang baru kudengar saat akan melepasmu.) sehingga, hanya aku yang merasa gila di akhir cerita ini.

Setelah acara melepaskan itu, rasanya aku ingin menjadi baik. Yeah, aku selalu ingin begitu tapi ini tak bisa kuhentikan. Rasanya meletup-letup.  Ini seperti “ baiklah, siapapun yang datang esok lusa aku akan tetap menjadi anak baik. Dia atau bukan” tapi dengan sebersit ‘dia’ di dalam hati. Sungguh aku tidak ingin mengakuinya. Tapi aku akan meledak jika aku tidak menuliskannya. Kau tahu? Firasatku tak pernah bisa kuandalkan, tapi bagaimana bisa hal yang sama terjadi berulang-ulang hanya karena ‘aku merasa’? jadi, bolehkah aku.. jika aku merasa suatu hari nanti.. entah kapan.. entah bagaimana.. kau.. hh.. aku malu mengatakannya. Apakah aku lebih bodoh dari empat tahun lalu?

Aku ingin menangis saja. Belajarku, hafalanku, entah. Aku hanya perlu mengingatmu untuk mengembalikan semangatku lagi. Sungguh, aku tidak mengerti cara kerjanya. Aku suka semangatku, tapi merasa aneh jika selalu ada kau dalam lipatan-lipatannya.


Apakah kau akan pergi dengan mudah? Mengganti episode milikku dengan yang lain? Jika begitu, aku akan meminta dari sekarang, ’’Ya tuhan, tak apa aku menangis. Karena aku butuh airmata. Tak apa aku harus merasa tidak baik, karena ketenangan hati butuh waktu. Tapi Ya Tuhan, satu hari saja. Aku tidak mau jika empat tahun waktuku habis untuk sesuatu yang bukan untukku. Datangkan saja penghibur hati. Yang lebih baik. Yang bisa mengusap air mata. Yang bisa menenangkan hati. Terima kasih, untuk segala rasa yang Kau karuniakan.  Untuk telah membuatku tidak mudah jatuh. Tapi jadikan aku mudah berdiri. Karena kau harus berlari. Pada-Mu’’

Tidak ada komentar:

Posting Komentar