Hai, kita bertemu lagi. Dalam suara dan batin. Selalu
begitu. Sungguh, aku tidak pernah faham.
Bagaimana saat aku merasa kau juga ada. Sudah ke berapa kalinya? Apakah ini berarti melepasmu
adalah salah? aku juga tidak yakin. Merasa kau disini hanya sekilas. Dan
seperti yang sudah-sudah, aku mengabaikan. Mencoba mengabaikan. Tapi beberapa
minggu kemudian, mereka bilang, kau ada. Beberapa minggu yang lalu. Pada hari
yang sama saat aku merasa. Aku bercerita pada bintang yang pernah hilang. ‘’
tolong, jika aku merasa lagi aku akan memberi tahu kau. Dan lihatlah, apakah ia
benar-benar ada.’’ Semoga kebetulan.
Lagi, aku bercerita. Pada hari itu. Aku merasa kau dekat.
Disini. Wahai, tak sampai seminggu, Bintang yang pernah hilang mengatakan
padaku, ‘’iya, dia ada. Pada hari itu.’’
Aku tidak percaya. Tidak ingin percaya. Dan terjadi lagi. Satu dua kali. Dengan
konfirmasi waktu semakin dekat. Bagaimanalah aku akan percaya? Itu dulu. Dan
aku sudah lupa.
Tapi Kemarin, aku dikelas. Menghafal. Tiba-tiba saja
terdengar suara. Aku berhenti. Tidak bisa melanjutkan hafalan. Hey, kau
mengganggu seluruh pekerjaan. hingga aku melihat kembaran. Lagi-lagi aku
akhirnya mengabaikan. Menganggap itu tadi suara kembaran. tapi aku tetap merasa
kau disini. Entahlah. Aku hanya merasa.
Kau, bintang yang pernah hilang baru saja datang mengabarkan
padaku. ‘’tepat di sore hari saat kau di kelas. Iya, dia di kantor.
Berbicara.’’ Wahai, aku sungguh tidak
ingin percaya.
Hai, aku takut salah. Bahkan melepasmu sekarang terasa
salah. Kau baik. Apa yang membuatku mengatakan tidak? Hanya karena aku takut.
Pengecut. Padahal aku sudah meminta tuhan.
Hingga Ia mengirim keyakinan padaku. Tapi aku kalah oleh takut.
Hai, mungkin kau sudah menghentikan epsode milikku dalam
hidupmu. (seorang lelaki baik yang sudah menentukan jalan miliknya sendiri,
jika ia menghentikannya sejenak, menunggu. Karena ada seseorang, maka
pertimbangkanlah dengan baik. Seseorang itu boleh jadi sangat berharga— nasihat
lama yang baru kudengar saat akan melepasmu.) sehingga, hanya aku yang merasa
gila di akhir cerita ini.
Setelah acara melepaskan itu, rasanya aku ingin menjadi
baik. Yeah, aku selalu ingin begitu tapi ini tak bisa kuhentikan. Rasanya
meletup-letup. Ini seperti “ baiklah, siapapun
yang datang esok lusa aku akan tetap menjadi anak baik. Dia atau bukan” tapi
dengan sebersit ‘dia’ di dalam hati. Sungguh aku tidak ingin mengakuinya. Tapi
aku akan meledak jika aku tidak menuliskannya. Kau tahu? Firasatku tak pernah
bisa kuandalkan, tapi bagaimana bisa hal yang sama terjadi berulang-ulang hanya
karena ‘aku merasa’? jadi, bolehkah aku.. jika aku merasa suatu hari nanti..
entah kapan.. entah bagaimana.. kau.. hh.. aku malu mengatakannya. Apakah aku
lebih bodoh dari empat tahun lalu?
Aku ingin menangis saja. Belajarku, hafalanku, entah. Aku
hanya perlu mengingatmu untuk mengembalikan semangatku lagi. Sungguh, aku tidak
mengerti cara kerjanya. Aku suka semangatku, tapi merasa aneh jika selalu ada
kau dalam lipatan-lipatannya.
Apakah kau akan pergi dengan mudah? Mengganti episode
milikku dengan yang lain? Jika begitu, aku akan meminta dari sekarang, ’’Ya
tuhan, tak apa aku menangis. Karena aku butuh airmata. Tak apa aku harus merasa
tidak baik, karena ketenangan hati butuh waktu. Tapi Ya Tuhan, satu hari saja.
Aku tidak mau jika empat tahun waktuku habis untuk sesuatu yang bukan untukku.
Datangkan saja penghibur hati. Yang lebih baik. Yang bisa mengusap air mata.
Yang bisa menenangkan hati. Terima kasih, untuk segala rasa yang Kau karuniakan.
Untuk telah membuatku tidak mudah jatuh.
Tapi jadikan aku mudah berdiri. Karena kau harus berlari. Pada-Mu’’

Tidak ada komentar:
Posting Komentar